Posts

Dear Husbands #1: Thank You for Listening (and Let Your Wife Crying)

Tulisan kali ini, Emak mau menyapa para pak bapak suami di luar sana dulu yaa.. Haloo para suami hebat! Tulisan kali ini Emak dedikasikan untuk para suami yang meski dengan susah payah mau mendengarkan, mencoba memahami, dan di atas segalanya...membiarkan istrinya menangis dan menemaninya. Uuuh so sweet 😍 Kenapa harus khusus berterimakasih? Karenaa eh karenaa..bagi para penghuni planet Mars inii, sangat tidak mudah mendengarkan, bersabar menemani dan membiarkan istrinya menangis tanpa mengerti dengan jelas alasannya apa. Di saat secara naluriah mereka maunya langsung cut dan masuk ke solusi aja deeh. Gitu. Yhaa khaan pak bapak? Hihi.. Sedangkan bagi kami para wanita penghuni planet Venus, maunya ceritaaa, maunya didengarkaan, maunya ditemeniin, dimengerti ketika sedang menangis sesegukan.  Kalau perlu ditambah sedikit sedikit sentuhan, pelukan, dibelikan martabak manis atau sebongkah berlian (loh kok ngelunjaak hahaha) But yes! Didengarkan, dipahami, dan diberi ruang untuk men...

Dear Mothers #2: Being A Stay At Home Mom, Grieving, Then Healing

Yep, kali ini kita akan bahas mengenai kehidupan sebagai stay at home mom  dan grieving? Maksudnya grieving? Ah lebay kali. Eits! Sebelum menilai bahwa  grieving  dalam proses menjalani kehidupan ibu rumah tangga adalah sesuatu yang lebay, coba dibaca dulu tulisan Emak yang satu ini. Semoga bermanfaat bagi para ibu dan support system di sekitarnya yaa. Memutuskan menjadi sepenuhnya ibu rumah tangga yang tinggal di rumah bersama anak bukanlah keputusan yang mudah. Baik saat proses membuat keputusannya maupun saat menjalaninya. Seperti yang disebutkan dalam artikel "What Research Says About Being a Stay At Home Mome?" [1] bahwa saat ini ibu yang memutuskan menjadi stay at home mom (SAHM) mengalami peningkatan, namun di sisi lain banyak ibu SAHM yang melaporkan bahwa mereka mengalami kesedihan, rasa marah, dan bahkan depresi. Disebutkan pula bahwa SAHM menghabiskan hampir seluruh waktunya bersama anak dibandingkan bersosialisasi di luar sehingga hal ini membuatnya rentan ...

Dear Mother #1 : You are Enough

"I wish I knew from the start that being a mother will be this tough (and blissful at the sametime)" Kalimat itu sekali dua kali melintas di kepala Emak. Ya, seandainya saja Emak tahu lebih awal bahwa menjadi seorang ibu perjalanan yaaang..nano nano. Tahu siih dari cerita orang atau bacaan. But believe me, you thought you knew until you stand on the shoes . Belajar ilmu psikologi sejak 2007, mendalami psikologi anak dan penghayatan Ibu di Magister Profesi selama 3 tahun puun ternyata belum cukup . Dulu Emak pikir sudah bisa cukup menghayati. Sampai akhirnya menjalani sendiri peran ibu. Well, you really have to walk the talk . Kalimat tersebut bukan muncul dari rasa sesal atau tidak bersyukur. Jelas bukan. Namun, selalu ada masa-masa dimana menjadi ibu terasa begitu mendebarkan, begitu membuat terkejut, gemetar bahkan di satu titik you really have no idea what's going on  haha. Biasanya ini terjadi ketika anak sakit, menangis kesakitan dan Emak ga tahu bagian mana ya...

Pembuka dari Emak

Hai! Ini Emaknya Digan. Emak Izza yang mencoba menulis lagi dan berbagi kisah suka duka perjalanan menjadi seorang ibu, menjadi orangtua untuk Digan Ananta Zaro. Di Blog ini, Emak akan mencoba banyak berbagi, mungkin dengan sedikit bumbu curhat. Tapi semoga saja lebih banyak manfaatnya dibanding mudharatnya karena kebanyakan curhatnya haha. Semoga siapapun yang mampir dan menyimak sejenak cerita-cerita Emak akan sedikit terhibur hatinya atau syukur-syukur terbantu karena mendapat informasi seputar parenting, kheusesnya motherhood dan seluk beluk mengasuh anak (which is ga mudaah ternyata. fiuh) Ini salam pembuka dari Emak. Semoga akan banyak salam salam berikutnya yang tentunya hangat dan tulus. Semoga hati selalu terasa hangat, meski cuaca tak selalu cerah Selamat menikmati ❤